12 October 2005

 


Mendiskusikan “Kiri-Tengah”

Sebuah Catatan *)


Daniel Hutagalung



Pengantar

Dalam politik, Kiri-Tengah dalam spektrum politik hari ini, secara kasar bisa dilihat pada kaum Sosialis-Demokrat Eropa atau juga Democratic Socialists (Sosialis-Demokrat), Demokrat-Sosial (Social-Democracy), Progressive Liberals (Liberal Progresif), Greens (kelompok Hijau/Enviromentalis) dan Reformed Communists (Komunis Reformis). Para pendukung Kiri-Tengah menerima konsep ekonomi pasar kapitalis, tetapi menyokong gagasan ekonomi campuran, antara sektor publik dan sektor privat secara signifikan. Kebijakan politik Kiri-Tengah cenderung untuk mendukung intervensi negara yang terbatas dalam sektor ekonomi, yang mana dilihat sebagai kepentingan publik. Politik Kiri-Tengah seringkali juga mendukung kebijakan-kebijakan yang berbasis lingkungan (environmentalist policies).

Ada baiknya kita telusuri genealogi konsep Kiri-Tengah, dari konsep “Sayap-Kiri” itu sendiri, “Sosialisme-Demokratik”, “Demokrasi-Sosial” sampai munculnya konsepsi “Kiri-Tengah”.

Istilah “Kiri” Dalam Politik

Dalam (ilmu) politik, Sayap-Kiri atau Leftism ada dalam istilah-isitilah yang merujuk pada spektrum politik yang secara tipikal diasosiasikan dengan berbagai macam (bentuk) ketegangan dalam Sosialisme, Demokrasi-Sosial atau Liberalisme (khususnya, tapi tidak secara eksklusif dalam sense istilah di Amerika), ataupun juga dalam hal oposisinya terhadap politik Sayap-Kanan, Komunisme, juga filsafat Marxisme yang banyak berbasiskan pada politik Sayap-Kiri. Kadangkala juga Anarkisme (Anarchism) dipertimbangkan sebagai bentuk radikal dari politik Sayap-Kiri.

Sejarah Istilah “Kiri”

Istilah “Kiri” (Left) pertama kali digunakan pada saat-saat awal Revolusi Perancis pada tahun 1789. Pada saat National Assembly (Sidang Nasional) pertama kali dilangsungkan, kaum Reformis duduk di sisi kiri dalam gedung Sidang Nasional, sementara para pendukung monarki dan kaum bangsawan duduk di sisi sebelah kanan. Secara orisinil, hal tersebut bukanlah ditujukan untuk menjadi sebuah pernyataan politis, tetapi terbentuknya faksionalisasi dalam Sidang Nasional, membuat label itu kemudian ditancapkan.[1]

Sekalipun, dalam penggunaan istilah tersebut sekarang ini kelihatan menjadi sangat ironis, mereka-mereka yang secara orisinil berada di “Sisi Kiri” selama Revolusi Perancis adalah para kaum Borjuis yang mendukung laissez-faire capitalism[2] dan pasar bebas (free markets).[3]

Sebagaimana hak pilih kemudian diperluas bukan hanya kepada para property-holders (kaum pemilik), para elit yang relatif kaya secara sadar menyadari kemenangan mereka terhadap kaum aristokrasi lama dan sisa-sisa feodalisme, tetapi sekaligus juga juga berhadapan dengan oposisi baru, yakni kaum buruh dan kaum pekerja-upahan yang terorganisir dan sangat politis, yang sedang tumbuh dan meningkat. “Kaum Kiri” di tahun 1789, pada hari ini, bisa jadi menjadi bagian dari apa yang disebut “Kanan”, liberal yang menghormati hak atas kepemilikan (property rights), hak karya intelektual, tetapi tidak memeluk ide-ide/gagasan keadilan distributif (distributive justice)[4], hak buruh untuk berorganisasi, dll.

Kaum Kiri di Eropa secara tradisional menunjukkan bentuk rangkaian yang berjalan dengan baik antara komunisme dan partai-partai komunis (termasuk komunisme eropa atau Eurocommunism),[5] yang kadangkala beraliansi dengan sejumlah kaum Kiri moderat untuk membangun sebuah front persatuan (united front). Di Amerika Serikat tidak ada partai sosialis atau partai komunis yang secara terbuka menjadi “pemain penting” dalam politik tingkat nasional. Jadi banyak kaum “liberal” di Amerika bisa jadi dikategorikan “sosial demokrat” dalam term Eropa, sangat sedikit dari mereka yang secara terbuka menggunakan istilah “Kiri”. Di Amerika Serikat term tersebut umumnya digunakan oleh para aktivis Kiri-Baru (New Left), sebagian dari gerakan buruh, dan orang-orang yang melihat diri mereka sebagai pewaris, secara intelektual maupun politik, dari gerakan sosialis abad 19.[6]

Kiri-Baru merujuk pada gerakan Sayap-Kiri radikal dari tahun 1960an sampai dengan sesudahnya, yang mengklaim telah melakukan pendobrakan terhadap sejumlah tradisi Sayap-Kiri. Di mana gerakan Sayap-Kiri masa-masa awal, umumnya berakar dalam aktivisme buruh (labor activism), Kiri-Baru secara umum mengadopsi definisi yang lebih luas dari aktivisme politik (political activism), yang secara umum disebut aktivisme sosial (social activism). Kiri-Baru memiliki berbagai macam derajat kesatuan semenjak kemunculannya di tahun 1960an. Utamanya sebagai koalisi cair dari sejumlah gerakan-gerakan yang berbeda-beda, termasuk (tapi tidak dibatasi pada) feminists (gerakan feminis), greens (gerakan lingkungan), beberapa serikat buruh, aktivis hak-hak homoseksual (gay rights activists), sejumlah etnis minoritas dan kelompok-kelompok hak-hak sipil yang berorientasi rasial (hak-hak kulit berwarna).

Banyak gerakan-gerkaan lingkungan menolak green politics (politik hijau) disebut berada di “Kiri”, meskipun demikian, kebijakan-kebijakan ekonomi mereka secara umum dapat dilihat cenderung “Kiri”, dan pada saat mereka membentuk koalisi-koalisi politis (terutama di Jerman, juga di sejumlah pemerintahan lokal di mana-mana), hampir selalu dengan kelompok-kelompok yang secara umum diklasifikasikan sebagai kelompok “Sayap-Kiri”.

Isu-Isu Politik Sayap-Kiri

Equality (kesetaraan), social justice (keadilan sosial), democracy (demokrasi), gender equality (kesetaraan gender), civil rights (hak-hak sipil), labor rights (hak-hak buruh) and trade unionism (serikat/organisasi buruh), perhatian pemerintah dan masyarakat terhadap kaum miskin, solidaritas kelas-pekerja, sekulerisme, toleransi, dan internasionalisme adalah nilai-nilai yang, dalam spektrum politik, secara tipikal diasosiasikan dengan Sayap-Kiri.

Politik “Kiri” secara umum mendorong kontrol pemerintah (governmental) dan masyarakat (social) atas ekonomi dan redistribusi kekayaan, dan menentang/menolak adanya hirarki sosial, menolak adanya otoritas terhadap perilaku moral, secara tegas setia terhadap tradisi, menolak monokulturalisme, menolak hak-hak istimewa terhadap orang-orang kaya, dan menolak nilai-nilai yang secara umum diasosiasikan dengan politik “Kanan”. Kaum “Kiri” menggambarkan diri mereka sebagai “progresif”, sebuah istilah yang muncul dari identifikasi mereka sebagai sebuah sisi dari kemajuan sosial.

Sayap-Kiri dan Gerakan Anti-Globalisasi

Gerakan anti-globalisasi, yang juga dikenal dengan Gerakan Keadilan Global (Global Justice Movement) atau Gerakan Mengubah-Globalisasi (alter-globalization movement), merupakan gerakan dari sejumlah gerakan-gerakan sosial yang terkenal dan terdepan dalam melakukan protes terhadap kesepakatan perdagangan global dan konsekuensi-konsekuensi negatif yang akan dirasakan oleh kaum miskin, buruh, juga terhadap lingkungan, perdamaian dan hak asasi manusia.[7]

Gerakan ini secara umum dikarakterisasi sebagai Sayap-Kiri, sekalipun sejumlah aktivis di dalam gerakan tersebut menolak diasosiasikan ada dalam tradisi Kiri. Jelas bahwa gerakan tersebut memiliki concern (perhatian) terhadap apa yang dipikirkan secara general sebagai isu-isu Sayap-Kiri. Dari sisi Kanan, gerakan anti-globalisasi selalu dibuat karikatur sebagai upaya kelompok “Kiri” tradisional (Far-Left) untuk menciptakan image baru (repackage) dan mungkin juga untuk dianggap eksis dalam tempat yang lebih luas dari filsafat dan gerakan anti-kapitalis.

Sosialisme-Demokratik dan Demokrasi-Sosial

Perkembangan kapitalisme dan gerakan politik yang lebih kemudian (terutama setelah tahun 1960an) membawa sejumlah pemikiran dan agenda politik baru dalam kelompok Sayap-Kiri. Tantangan dan situasi yang baru dalam kapitalisme dan tata-politik global melahirkan paradigma pemikiran baru, dan tuntutan politik baru. Dalam kompartemen Kiri, sejumlah pemikiran dan agenda politik baru pun banyak bermunculan, dan yang sampai hari ini paling menonjol adalah pemikiran dan politik Sosialis-Demokratik dan Demokrasi-Sosial.

Sosialisme-Demokratik (Democratic-Socialism)

Sosialisme-Demokratik adalah gerakan politik yang secara luas mereproduksi bentuk ideal dari sosialisme dalam konteks sistem demokrasi. Dalam banyak kasus, para pengikutnya mempromosikan ideal sosialisme sebagai sebagai suatu proses yang evolutif, yang dihasilkan dari pembuatan/pengajuan legislasi oleh demokrasi parlementer. Sosialis-Demokrat lainnya lebih memilih pendekatan revolusioner untuk membangun sosialisme dengan menciptakan sistem demokrasi non-parlementer, umumnya berbasiskan dewan-dewan buruh atau organisasi-organisasi sejenis.

Para pemikir, penulis dan aktivis seperti Robert Owen, Karl Marx, George Orwell, Sydney Webb dan Batrice Webb, semuanya dapat dikatakan memiliki sumbangan bagi “filsafat sosialis-demokrat”. Meskipun begitu, gerakan-gerakan popular seperti munculnya trade unionism, Gerakan Chartism dan Partai Buruh (Inggris Raya) (menyebut diri sebagai sebuah “partai sosialis-demokrat” sebagaimana menurut baris pertama anggaran dasar/konstitusi mereka), atau SPD di Jerman, yang semuanya secara kritis dipahami sebagai Sosialis-Demokratik.

Banyak dari orang-orang yang menganggap diri mereka “sosialis” selalu berargumentasi bahwa sosialisme memerlukan demokrasi, dan membuat istilah “sosialisme-demokrat” menjadi tidak berguna. Argumentasi tersebut kenyataannya tidak dapat menjelaskan bahwa sebuah gerakan yang disebut Sosialisme-Demokratik bukan dengan otomatis berarti cabang-cabang lain dalam sosialisme menjadi kurang demokratik.[8]

Istilah-istilah “Sosialisme-Demokratik” (Democratic Socialism) dan “Demokrasi-Sosial” (Social Democracy) seringkali digunakan secara bertukar-tukar, dan terlebih lagi, banyak yang menganggap keduanya sinonim, bahkan sampai hari ini. Sekarang ini, bagaimana pun juga, keduanya menandakan dua hal yang berbeda: Social Democracy (Demokrasi-Sosial) secara politik lebih moderat dan mendukung system kapitalisme secara luas, dengan hanya porsi kecil bagi reformasi sosial (seperti welfare state atau negara kesejahteraan), memiliki perencanaan untuk membuat lebih fair dan manusiawi. Sementara itu, Sosialis-Demokratik lebih cenderung pada Sayap-Kiri, dan mendukung penuh sistem sosialis, berupaya untuk membangun sistem sosialis, baik dengan mereformasi kapitalisme dari dalam secara gradual, atau melalui transformasi revolusioner dan meyakini bahwa kapitalisme tidak dapat di-manusiawi-kan.[9] Terlebih, Sosialis-Demokrat bisa juga gerakan sosialis yang evolusioner, maupun gerakan revolusioner.

Ketegangan antara tendensi evolusioner maupun revolusioner bisa dilihat pada Partai Sosialis Amerika Serikat, yang anggota-anggotanya melakukan advokasi terhadap dua posisi tersebut (sekalipun dalam pernyataan prinsipil partai disebutkan bahwa partai menggunakan istilah “revolusi” untuk menggambarkan posisi partai secara umum). Kaum Sosialis-Demokratik revolusioner menuduh mereka yang memilih perubahan evolusioner sebagai pendukung jenis “sosialisme dari atas”, yakni dicapai melalui proses legislasi, dan tidak secara sungguh-sungguh menghapuskan sistem kapitalisme. Kaum Sosialis-Demokratik evolusioner menuduh para pendukung revolusi memperjuangkan hal-hal yang tidak mungkin dilakukan dan mendukung pendekatan pie-in-the-sky (sesuatu yang tidak mungkin).[10]

Kelompok Sosialis-Demokrat evolusioner dan kelompok Demokrat-Sosial, setidaknya, sama-sama mendukung sebuah welfare state, sekalipun sejumlah kaum Demokrat-Sosial dipengaruhi oleh gagasan Third Way (Jalan Ketiga), akan tetapi mereka mempertimbangkan makna lain dari program pemberian jaring pengaman sosial (social safety net) bagi kaum termiskin dalam masyarakat. Kaum Sosialis-Demokrat revolusioner juga mendukung gagasan welfare-state, bukan dalam artian untuk mencapai sosialisme, melainkan sebagai jalan untuk membuktikan pembebasan, sampai perubahan revolusioner mengambil alih, dan juga bermakna mobilisasi masyarakat menuju ideal revolusioner.

Para Sosialis-Demokrat tetap pada komitmen untuk redistribusi kekayaan dan kepemilikan sosial terhadap industri-industri utama (besar), dan beberapa lainnya meyakini sistem ekonomi terencana (planned economy); semua ini merupakan konsep-konsep yang ditolak oleh para Demokrat-Sosial. Sebagai tambahan, banyak Sosialis-Demokrat yang tetap mempertahankan analisis Marxisme (sekalipun kadangkala disebut reformis), sementara Demokrat-Sosial menolak Marxisme.

Karakteristik Sosialis-Demokratik

Sosialis-Demokratik selalu mempertahankan agenda peran sektor publik, terutama dalam hal pelayanan-pelayanan sektor penting seperti kesehatan, pendidikan, transportasi massa, dan kadangkala perbankan, pertambangan dan ekstraksi bahan bakar minyak. Bagi Sosialis-Demokratik evolusioner, pandangan ekonomi mereka selalu memasukkan gagasan (mixed economy) ekonomi campuran dengan penekanan yang lebih besar pada koperasi pekerja dan konsumen, kredit lunak, pertanian keluarga dan usaha (bisnis) kecil. Sosialis-Demokratik revolusioner selalu melihat peran sektor publik, bukan dalam artian pencapaian sosialisme, tetapi dimaknai sebagai perbaikan atas efek buruk dari kapitalisme sampai sebuah revolusi menuntaskannya.

Secara taktis, Sosialis-Demokratik memasukkan spektrum posisi, dari yang mendukung perlawanan non-kekerasan menentang kapitalisme, atau juga kemungkinan perlawanan dengan kekerasan dalam keadaan tertentu, terutama yang memiliki komitmen eksklusif terhadap reformasi anti-kapitalisme melalui jalan parlementer. Sosialisme-Demokratik yang menyokong aksi langsung kadangkala cenderung dinilai memiliki kemiripan dengan anarcho-syndicalism (dengan mana Sosialis-Demokratik memiliki kesamaan karakteristik dalam hal anti-kapitalis dan anti-otoriterian), meskipun Sosialisme-Demokratik dikarakterisasikan tidak mendukung gagasan bahwa negara adalah sebuah kejahatan (evil) yang harus dihapuskan, sebagaimana kaum anarcho-syndicalism.[11]

Demokrasi-Sosial (Social Democracy)

Demokrasi-Sosial adalah sebuah ideologi politik yang muncul pada akhir abad 19 dan awal abad 20 dari para pendukung Marxisme yang meyakini bahwa transisi menuju masyarakat sosialis dapat dicapai melalui evolusi demokratik dibandingkan dengan revolusi. Demokrasi-Sosial menekankan suatu program yakni reformasi legislatif secara gradual dari sistem kapitalisme dalam tujuan untuk membuat sistem tersebut lebih wajar, umumnya dengan tujuan teoritis membangun masyarakat sosialis.

Istilah Demokrasi-Sosial juga dapat dirujuk pada jenis tatanan masyarakat tertentu yang didukung Demokrasi-Sosial. Sosialis Internasional (SI) – organisasi tingkat dunia dari partai-partai Demokrat-Sosial dan Sosialis-Demokratik – mendefinisikan demokrasi sosial sebagai sebuah bentuk ideal dari demokrasi representatif, yang mungkin dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada dalam demokrasi liberal. SI menekankan prinsip untuk membangun welfare state: Pertama, kebebasan (freedom) yang di dalamnya termasuk bukan hanya kebebasan individu, juga kebebasan dari diskriminasi dan bebas dari ketergantungan terhadap para pemilik alat-alat produksi atau penyalahgunaan kekuasaan politik. Kedua, kesetaraan dan keadilan sosial (equality and social justice), bukan hanya persamaan di depan hukum, tetapi juga kesetaraan ekonomi dan sosial-budaya, dan kesetaraan dalam kesempatan bagi semua orang, termasuk yang mengalami cacat fisik, mental dan sosial. Ketiga, solidaritas – kesatuan dan rasa kebersamaan bagi korban ketidakadilan dan ketidaksetaraan.

Pandangan Kekikinian Dari Demokrasi-Sosial

Secara umum, Demokrasi-Sosial kontemporer mendukung:

§ Sistem regulasi atas usaha privat untuk kepentingan buruh, konsumen dan usaha kecil.

§ Sistem social security yang ekstensif (biasanya bukan seluas yang disokong oleh Sosialis-Demokrat atau kelompok sosialis lainnya), khususnya untuk menghapus akibat-akibat dari kemiskinan dan untuk mengasuransikan warganegara dari kehilangan income akibat penyakit atau pengangguran.

§ Program-program yang dibiayai atau disubsidi pemerintah seperti pendidikan, kesehatan, kepedulian terhadap anak, dll, bagi setiap warganegara.

§ Moderat terhadap tingkat pajak yang tinggi untuk membiayai pengeluaran pemerintah dan sistem pajak progresif.

§ Adanya sistem regulasi di sektor industri (aturan upah minimum, kondisi kerja, perlindungan terhadap pemecatan (PHK) sewenang-wenang).

§ Aturan hukum untuk perlindungan lingkungan (meskipun tidak seluas yang disokong oleh kelompok-kelompok Hijau).

§ Imigrasi dan multikulturalisme.

§ Kebijakan sosial yang sekuler dan progresif. Misalnya sejumlah kelompok Demokrat-Sosial mendukung perkawinan sejenis, aborsi, kebijakan obat-obatan (drugs) yang liberal, sekalipun juga ada yang tidak memiliki komitmen tersebut, atau menentang kebijakan tersebut secara terbuka.

§ Kebijakan luar negeri yang mendukung kerja sama multilateral dan institusi-institusi internasional seperti PBB.[12]

Kritik Terhadap Demokrasi-Sosial

Kritik terhadap Demokrasi-Sosial kebanyakan datang dari Sayap-Kanan. Kelompok-kelompok konservatif biasanya berargumentasi bahwa sistem Demokrasi-Sosial terlalu restriktif terhadap kebebasan individu, khususnya kebebasan ekonomi, dan bahwa pilihan individual tidak sebesar dalam suatu sistem yang menyediakan sekolah-sekolah negeri, kepedulian terhadap kesehatan, dan layanan-layanan lainnya. Demokrat-Sosial biasanya menjawab dengan argumen bahwa dalam faktanya kebijakan mereka meningkatkan hak-hak individu, dengan meningkatkan standar hidup dari mayoritas populasi masyarakat luas dan menghapuskan ancaman kemiskinan yang besar.

Kaum ekonom konservatif dan liberal klasik berargumentasi bahwa Demokrasi-Sosial mencampuri mekanisme pasar, dan mengacaukan ekonomi dengan mendorong defisit anggaran yang besar dan membatasi kemampuan para pengusaha untuk melakukan investasi pada apa yang mereka anggap layak. Demokrat-Sosial berargumentasi bahwa hasil observasi mereka terhadap pemerintahan Sayap-Kanan juga menciptakan defisit anggaran yang besar pada tahun-tahun pemerintahan mereka.[13]

Kritik yang ekstensif terhadap Demokrasi-Sosial juga datang dari banyak segmen dari Sayap-Kiri. Sosialis-Demokratik dan sosialis revolusioner mengkritik Demokrasi-Sosial karena menjadi demikian tergantung kepada sistem kapitalisme, dan membuatnya menjadi tidak berbeda dengan Liberal-Modern. Banyak kaum Demokrasi-Sosial secara eksplisit meninggalkan label “Sosialis” dan tujuan untuk mencapai negara sosialis. Keinginan untuk bekerja dalam sistem kapitalisme, daripada mencoba untuk melakukan modifikasi atau menggulingkan sistem tersebut, menjadikan banyak kelompok-kelompok Kiri menuduh partai-partai Demokrat-Sosial modern sudah menjadi korup dan mengkhianati prinsip-prinsip mereka sendiri. Kritik kelompok Kiri menyatakan bahwa sejumlah Demokrat-Sosial ternama, seperti Tony Blair dan Gerhard Schröder, melakukan pekerjaan kapitalisme, dengan mengimplementasikan pemotongan pajak, pemotongan program-program sosial, melakukan privatisasi, deregulasi industrialisasi dan memutar kembali welfare state ketimbang memperluasnya.[14]

Penutup: Wacana Politik Kiri-Tengah

Dari uraian di atas, bagaimana melihat politik Kiri-Tengah (Centre-Left) yang sekarang ini dipresentasikan oleh Sosialisme-Demokratik dan Demokrasi-Sosial? Ataupun politik Tengah-Baru (New-Centre)? Atau Tengah-Kiri (Left-Cantre)? Bagaimana membedakannya?

Memang sulit secara rigid untuk memilah-milah ketiganya secara sederhana. Hanya satu yang pasti bahwa semuanya menjadikan posisi Tengah sebagai posisi politik yang ideal dalam “mendayung di antara dua karang” Sayap-Kiri dan Sayap-Kanan, maupun Kiri-Baru dan Kanan-Baru. Tengah-Baru merujuk pada terjadinya pergeseran agenda dan wacana politik dari kelompok Kiri untuk lebih bergerak ke Tengah, dalam hal menjawab tantangan politik kontemporer yang problemnya lebih bervariasi, baik tantangan maupun dalam hal yang praktikal, yakni politik elektoral. Sementara, kelompok yang berada di Tengah pun mulai mengadopsi agenda-agenda dan wacana politik Kiri, dalam hal memperbaiki wajah buram kapitalisme untuk menjadi lebih “manusiawi” dengan ikut menawarkan program-program yang “milik” politik Kiri seperti keadilan sosial, kesetaraan, lingkungan, upah, kondisi kerja, dan lain-lain.

Partai Buruh di Inggris, misalnya, yang masih menyebut diri sebagai a democratic-socialist party dalam konstitusi partainya,[15] namun mengartikulasikan wacana Demokrasi-Sosial dalam praktik politiknya. Dalam Labour Manifesto, Partai Buruh Inggris mendeklarasikan program “A New Centre and Centre-Left Politics”,[16] yang program-programnya lebih dekat dengan wacana Demokrasi-Sosial.

Pertanyaan berikutnya, jika mau diambil contoh Jerman dan Inggris yang menjalankan Politik Tengah sebagai sentrum, adalah: mana yang bergeser ke Tengah dan mana yang bergeser ke Kiri? Atau tidak keduanya? Atau keduanya bergerak pada satu arah yang sama? Nah mari kita diskusikan bersama-sama.

( *** )


Daftar Pustaka

Bobbio, Noberto, Left and Right: The Significance of A Political Distinction. Cambridge: Polity Press, 1999

Black, John, Oxford Dictionary of Economy. Oxford: Oxford University Press (New Edition), 2002

Blair, Tony dan Gerhard Schroeder, Europe: The Third Way/Die Neue Mitte. FES Working Documents No.2, June 1998.

Burbach, Roger, dan Orlando Nuñéz, Fire in the Americas: Forging A Revolutionary Agenda. London: Verso, 1987

Giddens, Anthony, The Third Way and Its Critics. Cambridge: Polity Press, 2000

Giddens, Anthony, Jalan Ketiga: Pembaruan Demokrasi Sosial. Jakarta: Gramedia, 1999

Guérin, Daniel, Anarchism: From Theory to Practice. New York: Monthly Review Press, 1971

Klein, Naomi, Fences and Windows: Dispatches From the Front Lines of the Globalization Debate. New York: Picador, 2002




*) Tulisan ini hanya catatan-catatan ringkas untuk diskusi Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik (HMIP) FISIP UI, Selasa 11 Oktober 2005. Bukan kertas kerja untuk dikutip.

[1] Allan Cameron, “Introduction”, dalam Noberto Bobbio, Left and Right: The Significance of A Political Distinction. Cambridge: Polity Press, 1996, hal. x

[2] Laissez-faire mempunyai makna “(a) policy of complete non-intervention by government in the economy, leaving all decision to the market…” (“kebijakan mengenai tidak adanya intervensi oleh pemerintah dalam sektor ekonomi, dan menyerahkan seluruh keputusan-keputusan pada pasar”). Laissez Faire merupakan istilah dalam bahasa Perancis yang bermakna adanya prinsip bahwa dalam sektor industri tidaklah dibutuhkan regulasi. Artinya prinsip bahwa ekonomi hanya akan dapat berjalan dengan baik jika sektor industri privat tidak diatur dalam regulasi-regulasi dan pasar berjalan secara bebas. John Black, Oxford Dictionary of Economy. New Edition. Oxford and New York: Oxford University Press, 2002, hal. 268

[3] Free Market Economy atau Liberalisasi diartikan, “Suatu program perubahan arah gerak menuju sebuah ekonomi pasar bebas. Ini secara normal meliputi pengurangan dari kendali langsung pada dua transaksi internasional dan internal, dan bergeser ke arah yang mengandalkan mekanisme harga ke keselarasan kegiatan ekonomi. Dalam sebuah program yang demikian diminimkannya pembuatan lisensi, surat ijin dan pengendalian harga, dan di sana lebih dipercayakan kepada harga pasar. Program tersebut juga mengikutsertakan suatu pergeseran dari pengendalian pertukaran dan berbagai nilai tukar, ke arah suatu mata uang yang dapat diubah. Perluasan untuk mana suatu ekonomi dikendalikan dapat sangat berubah-ubah; liberalisasi adalah suatu tingkatan tingkat, dan tidak termasuk suatu pergeseran kepada laissez faire secara total”. Ibid.

[4] Keadilan distributif (distributive justice) memberikan perhatian pada apa yang hanya atau benar, yang berkaitan dengan alokasi dari barang-barang (atau kegunaan) dalam masyarakat. Keadilan distributif berkonsentrasi hanya pada hasil-hasil, dan bukan proses, sebagaimana gagasan keadilan prosedural (procedural justice). Teoritisi yang sangat terkemuka mengenai gagasan distributive justice adalah John Rawls dan Robert Nozick.

[5] Eurocommunism muncul di tahun 1970an yang dipelopori oleh sejumlah partai-partai komunis di Eropa, yang memperluas tuntutan perjuangan mereka dengan mengadopsi tuntutan-tuntutan pekerja kelas menengah di sektor publik, gerakan sosial baru seperti feminisme dan kebebasan kaum homoseksual, penolakan terhadap Uni Sovyet, dan menunjukkan ekspresi loyalitas mereka dengan jelas atas institusi-institusi demokratik.

[6] Lihat Roger Burbach dan Orlando Nuñéz, Fire in the Americas: Forging A Revolutionary Agenda. London: Verso, 1987, hal. 75-78.

[7] Naomi Klein, Fences and Windows: Dispatches From the Front Lines of the Globalization Debate. New York: Picador, 2002, hal. 4.

[8] Penjelasan umum mengenai ini lihat Anthony Wright, “Social Democracy and Democratic Socialism” dalam Roger Eatwell dan Anthony Wright, Contemporary Political Ideologies. London, Pinter 1999 (2nd Edition).

[9] Alex Callinicos, Against the Third Way: An Anti-Capitalist Critique. Cambridge, Polity Press, 2002, hal. 5-6.

[10] Roger Brubach dan Orlando Nuñéz, op. cit., hal. 4-5

[11] Anarcho-Syandicalism atau Anarchism, berasal dari istilah Yunani yang artinya kira-kira “absennya otoritas atau pemerintahan”. Menurut J. P. Proudhon dan Michael Bakunin, Anarki adalah “Ketidak teraturan kolosal, disorganisasi masyarakat yang sempurna dan, setelah terjadinya perubahan raksasa secara revolusioner, terbentuk suatu tata aturan yang baru, stabil dan rasional, yang didasarkan pada kebebasan dan solidaritas”. Menurut kaum Anarkis, “negara merupakan pre-konsepsi yang sangat mematikan”. Sementara Bakunin menilai bahwa negara merupakan “sebuah abstraksi yang menelan kehidupan manusia” dan sebagai sebuah “kuburan yang maha luas, di mana seluruh aspirasi yang nyata dan kekuatan yang hidup dari suatu negeri dengan murah hati dan penuh kebaikan, memperbolehkan mereka untuk dikubur atas nama abstraksi tersebut”. Lihat Daniel Guérin, Anarchism: From Theory to Practice. New York: Monthly Review Press, 1971, hal.12-16. Namun sekarang ini Anarkis banyak di sinonimkan sebagai ketidakteraturan, chaos, disorganisasi, pemberontakan yang mendalam, kerusuhan, pengrusakan, dan semua hal-hal yang berhubungan dengan tindakan destruktif.

[12] Semua program ini bisa dilihat dalam pamflet Tony Blair dan Gerhard Schroeder, Europe: The Third Way/Die Neue Mitte. FES Working Documents No.2, June 1998. Lihat juga Anthony Giddens, Jalan Ketiga: Pembaruan Demokrasi Sosial. Jakarta: Gramedia, 1999.

[13] Anthony Giddens, The Third Way and Its Critics. Cambridge: Polity Press, 2000, hal. 124-132.

[14] Alex Callinicos, op. cit., hal. 107-108.

[15] Ini terdapat dalam baris pertama Clause IV dari konstitusi Partai Buruh.

[16] “New Labour For New Britain”, Labour Party Manifesto, 1997.


Comments: Post a Comment



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?